Home / Entertainment / Music / Balawan dan Reyhan Naufal Racik Dialektika Touch-Tapping dan Diatonic Harmonica

Balawan dan Reyhan Naufal Racik Dialektika Touch-Tapping dan Diatonic Harmonica

Dua musisi Balawan & Reyhan Naufal. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Di balik megahnya arsitektur SOAS Auditorium di SOAS University, Bloomsbury, pusat Kota London, sebuah takdir kesenian merajut benangnya tanpa direncanakan. Kala itu, gema petikan gitar bernuansa tradisi-modern sedang memenuhi penjuru ruangan.

Di atas panggung, I Wayan Balawan, seorang gitaris kawakan asal Gianyar, Bali—sedang menumpahkan seluruh energi musikalnya. Di antara deretan penonton yang terpukau, hadir seorang pemuda Indonesia yang sedang menempuh pendidikan sarjana ekonomi di Coventry University. Pemuda itu bernama Muhamad Reyhan Naufal.

Didorong oleh hasrat musikal yang mendalam serta keberanian profesional, Reyhan memberanikan diri melangkah naik ke panggung untuk melakukan jam session bersama sang maestro.

Detik-detik improvisasi spontan di ruang auditorium London tersebut menjadi titik mula dari sebuah perjalanan kolaborasi panjang yang kelak melintasi berbagai benua dan festival jazz bergengsi tingkat dunia.

Apabila ditelisik dari rekam jejak historisnya, kedua musisi ini bertolak dari latar belakang pendidikan serta ruang kebudayaan yang bertolak belakang.

I Wayan Balawan, yang lahir di Gianyar pada 9 September 1972, merupakan musisi terdidik secara formal. Usai mengenyam pendidikan akademik di bidang musik pada Australian Institute of Music di Sydney hingga meraih gelar diploma pada tahun 1997, Balawan memutuskan kembali ke Tanah Air. Ia mengawali pengembaraan musikalnya dengan bolak-balik antara Jakarta dan Denpasar.

Komitmen Balawan dalam mengeksplorasi batas-batas musik berbuah pada pembentukan grup Batuan Ethnic Fusion. Kelompok musik ini menjadi pelopor dalam meleburkan unsur-unsur musik tradisional Bali dengan idiom musik Barat.

Melalui wadah ini pula, Balawan memperkenalkan teknik permaianan touch tapping pada gitar elektrik—sebuah teknik memetik dan menekan dawai secara bersamaan menggunakan kedua tangan yang pada era akhir 1990-an masih terbilang sangat langka dan revolusioner di lanskap musik Indonesia.

Sementara itu, Muhamad Reyhan Naufal lahir di Jakarta pada 15 Desember 1997. Berbeda dengan Balawan, Reyhan tidak pernah mengenyam pendidikan musik formal di institusi manapun. Pendidikan tingginya diselesaikan di Coventry University, West Midlands, Inggris, di mana ia meraih gelar Bachelor of Arts in Economics.

Namun, minat intelektualnya pada ilmu ekonomi tidak menghalangi panggilan jiwanya terhadap musik. Secara mandiri dan otodidak, Reyhan mendalami instrumen harmonika diatonik hingga berkembang menjadi salah satu praktisi terdepan, edukator, sekaligus juri (adjudicator) internasional.

Fokus utamanya adalah memperkenalkan serta menguji batas kemampuan advancing diatonic harmonica dalam spektrum contemporary jazz, blues, dan musik improvisasi kontemporer.

Pertemuan di London menjadi jembatan yang menghubungkan keahlian akademis akademisi musik Sydney dengan ketekunan otodidak lulusan ekonomi Inggris tersebut. Keduanya menemukan keselarasan yang intensif pada visi, misi, serta cita rasa (taste) estetika bermusik.

Dalam konseptualisasi pertunjukan musik pada umumnya, perpaduan antara gitar dan harmonika sering kali terjebak dalam pembagian peran yang kaku, gitar memegang kendali melodi utama (lead), sementara harmonika bertindak sekadar sebagai pengisi ornamen latar belakang.

Namun, dalam format duo Balawan dan Reyhan Naufal, paradigma konvensional tersebut dirombak secara mendasar.

Eksplorasi yang mereka usung mengedepankan prinsip kesetaraan dan dialog yang hidup di atas panggung. Gitar elektrik Balawan dan harmonika diatonik Reyhan saling menyapa, memancing, dan merespons satu sama lain secara dinamis.

“Kami tidak memosisikan gitar semata sebagai instrumen melodi utama (lead) dan harmonika sebagai iringan latar belakang (background). Kolaborasi ini berbasis pada bentuk dialog interaktif yang saling merespons secara proporsional atas dasar kesetaraan dan rasa saling menghormati,” kata Reyhan Naufal saat menjelaskan filosofi kerja sama mereka.

Struktur pertunjukan mereka didasari oleh sikap saling menghormati batas wilayah sonik masing-masing. Ketika Balawan meluncurkan raungan touch tapping yang kompleks, Reyhan menyelipkan tiupan harmonika dengan artikulasi nada yang presisi, mengisi ruang-ruang kosong tanpa terkesan berebut dominasi.

Sebaliknya, ketika harmonika Reyhan mengambil alih kepemimpinan melodi, gitar Balawan bertransformasi menjadi fondasi harmonis yang kaya akan warna kord jazz kontemporer.

Sejak kesepakatan artistik di London terbangun, kiprah duo ini terus menggelombang di ranah internasional.

Konsistensi mereka dibuktikan melalui panggung Seoul International Harmonica Festival di Korea Selatan, di mana mereka diundang tampil secara berturut-turut pada edisi tahun 2018, 2019, dan 2023.

Respons positif dari publik global berlanjut saat mereka menggelar konsertasi di Melbourne, Australia, pada tahun 2019.

Perjalanan internasional mereka mencapai salah satu puncaknya ketika diundang mengisi perhelatan akbar Asia Pacific Harmonica Festival yang berlangsung di Kota Jiangyin, Tiongkok, pada Juli 2026.

Di arena tersebut, perpaduan antara teknik touch tapping khas Bali dan advanced diatonic harmonica memperoleh pengakuan luas dari para pakar dan pencinta musik internasional sebagai sebuah bentuk ekspresi baru yang segar dan belum pernah ada sebelumnya.

Keberhasilan di tingkat global membawa impak yang sama kuatnya saat mereka tampil kembali di hadapan publik dalam negeri. Pada awal Oktober 2026, duo Balawan dan Reyhan Naufal bersama grup band pendukungnya tampil menghentak panggung The Papandayan Jazz Festival (PJF) edisi ke-14 di Bandung.

Tampil pada sesi penutup di Hari Minggu malam, mereka berhasil menyedot antusiasme luar biasa dari para penikmat musik jazz yang memenuhi arena festival.

Selama 60 menit pertunjukan yang intens dan impresif, kolaborasi mereka didukung penuh oleh jajaran musisi andal Tanah Air, yaitu Doni Joesran pada instrumen keyboard, Dharrian Emilio pada drum, serta Jonathan pada bas.

Konser malam itu kian bertambah meriah dengan hadirnya beberapa musisi undangan yang bergabung dalam sesi jamming interaktif.

Di antaranya adalah gesekan biola energetik dari Aria Indra, ketukan ritmo presisi dari drummer Dion Subyakto, serta penampilan kehormatan dari maestro harmonika legendaris Indonesia, Hari Pochang.

Pertunjukan tidak hanya diisi oleh kepiawaian teknis, tetapi juga diwarnai gimmick interaktif yang menghapus jarak antara panggung dan penonton. Dalam salah satu segmen yang riuh, Balawan mengajak seluruh audiens untuk terlibat langsung menyusun elemen-elemen lagu secara espontan, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan tak terupakan.

Catatan perjalanan musikal duo ini dipastikan terus berlanjut. Pada 28 hingga 31 Oktober 2026, Balawan dan Reyhan Naufal dijadwalkan terbang ke Tiongkok untuk tampil pada perhelatan industri musik global Music China yang diselenggarakan di Shanghai New International Expo Centre.

Kehadiran mereka di Shanghai menjadi bukti komitmen berkelanjutan dalam membawa warna musik independen Indonesia ke panggung perdagangan dan kebudayaan dunia.

Di sisi lain, Reyhan Naufal tetap memegang teguh peran edukatifnya. Selain bersiap menuju Shanghai, ia menggagas sebuah perhelatan festival harmonika berbasis daring bertajuk Harmonica Summit yang akan dilaksanakan pada 25 Oktober 2026.

Dalam program edukatif dan pertunjukan digital ini, Reyhan berkolaborasi langsung dengan pemain harmonika terkemuka asal Inggris, Adam Glasser. Seluruh informasi mengenai ajang ini dipublikasikan secara berkala melalui akun Instagram @harmonica.nusantara.

Sinergi berkelanjutan antara Balawan dan Reyhan Naufal membuktikan bahwa batasan generasi, latar belakang pendidikan, serta jenis instrumen dapat dileburkan menjadi sebuah karya seni yang tinggi nilainya apabila dilandasi oleh keterbukaan jiwa dan kesamaan visi seni. []

Artikel ini diolah dan disesuaikan dari siaran pers yang ditulis wartawan musik senior Gideon Momongan.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *