Cockpit+ Lanjutkan Warisan Grup Band Legendaris Cockpit
Jakarta – Tahun 2026 menjadi tonggak penting bagi perjalanan panjang Cockpit, grup musik cover Genesis yang telah eksis sejak 1983. Kini, tongkat estafet diteruskan oleh generasi baru dengan nama Cockpit+, formasi yang lahir dari semangat menjaga warisan musik sekaligus menghadirkan energi segar bagi penggemar.
Cockpit dikenal sebagai salah satu cover-band paling serius dan konsisten di Indonesia. Sejak awal berdiri, mereka membawakan banyak hits Genesis dan Phil Collins dengan tingkat kemahiran yang membuat penonton kagum.
Bahkan dalam candaan, Cockpit disebut sebagai “Genesis nomor satu, Genesis asli nomor dua”, sebuah gambaran betapa seriusnya mereka dalam menghidupkan kembali karya-karya band legendaris asal Inggris itu.
Sejarah Panjang Cockpit
Perjalanan Cockpit dimulai dari Batara Band di awal 1980-an, sebelum beberapa personelnya sepakat membentuk Cockpit. Formasi awal terdiri dari:
- Freddy Tamaela (vokal)
- Harry Minggoes (bas)
- Yaya Moektio (drum)
- Odink Nasution (gitar)
- Roni Harahap (keyboard)
Pada 1984, Raidy Noor masuk menggantikan Harry Minggoes. Kehadiran mereka langsung mencuri perhatian publik lewat konser-konser di Balai Sidang Senayan, Kartika Chandra Theatre, hingga Stadion Menteng yang selalu ramai penonton.
Meski menghadapi kehilangan besar ketika Freddy Tamaela wafat pada 1990, Cockpit tetap melanjutkan perjalanan dengan vokalis baru, Arry Syaff. Mereka menjelma menjadi salah satu grup musik entertainer paling sukses, menjadi langganan promotor dan event organizer karena selalu menghadirkan pertunjukan penuh penonton.
Namun perjalanan panjang itu juga diwarnai duka:
- Odink Nasution meninggal pada 27 Februari 2020
- Arry Syaff pada 12 Desember 2020
- Roni Harahap pada 13 Juni 2022
- Posisi keyboard kemudian diisi bergantian oleh Dave Lumenta dan Krisna Prameswara.
Lahirnya Cockpit+
Kini, Cockpit diteruskan oleh generasi baru yang sudah lama berada di sekitar band. Nama-nama seperti Krisna Prameswara, Jimmo, Judy Kartadikarya, Rama Moektio, dan Nada Noor menjadi inti dari Cockpit+.
Rama adalah putra dari almarhum Yaya Moektio, sementara Nada adalah putra dari almarhum Raidy Noor. Keduanya sepakat melanjutkan perjalanan Cockpit sebagai bentuk penghormatan terhadap ayah mereka.
Dalam diskusi bersama media, Rama menegaskan, “Kami sebagai anak-anaknya sangat menghormati dan menyanjung ayah kami. Kami bukan untuk menggantikan, tentu sulit sekali. Tapi kami hadir untuk meneruskan energi positif bermusik dari kedua ayah kami”.
Formasi baru ini juga diperkuat oleh Hendri, bassist yang dikenal sebagai session player dan pendukung KLa Project. Dengan masuknya Hendri, posisi yang ditinggalkan Raidy Noor kembali terisi, menjadikan Cockpit+ siap melangkah dengan formasi solid.
Dukungan Produksi dan Logo Baru
Dukungan penuh datang dari Budi Santosa melalui Busan Production, yang sejak lama bekerja sama dengan Cockpit. Budi menyatakan apresiasi tinggi terhadap Rama dan Nada, serta berkomitmen mendukung penuh Cockpit+ dengan konsep baru dan logo baru yang menampilkan tanda plus sebagai bintang di pojok kanan atas.
“Prinsipnya, Busan siap sedia berjalan bersama Cockpit+. Semoga Cockpit+ akan aktif hadir lagi di berbagai tempat, bahkan rencananya juga di berbagai kota,” tutur Budi.
Konser Perdana Cockpit+
Kehadiran perdana Cockpit+ akan ditandai dengan penampilan mereka di konser Glitz Inclusive Lounge, Kuningan City Mall, Jakarta Selatan, pada Jumat, 1 Mei 2026. Acara ini menjadi momentum penting bagi band untuk memperkenalkan formasi baru sekaligus membuktikan bahwa warisan Cockpit tetap hidup dan relevan.
Warisan dan Semangat Baru
Cockpit+ bukan sekadar melanjutkan nama besar Cockpit, tetapi juga menghadirkan semangat baru. Dengan generasi penerus yang membawa energi segar, mereka siap menjaga tradisi sebagai salah satu cover-band Genesis terbaik di Indonesia, sekaligus membuka jalan untuk eksplorasi musikal yang lebih luas.