Menguliti Gunung Api Purba Nglanggeran Yang Masuk Nominasi UNWTO

MyLifestyle.id – Indonesia memang tak pernah kehabisan destinasi wisata yang indah. Setelah Desa Tetebatu di Nusa Tenggara Barat (NTB), kini Desa Wisata Nglanggeran di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terpilih mewakili Indonesia dalam ajang Desa Wisata Terbaik (Best Tourism Village) dari Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO).

Nglanggeran merupakan desa wisata yang berada di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini terkenal sebagai lokasi Gunung Api Purba Nglanggeran yang kemudian dikelola sebagai Geopark Gunung Sewu dan pada 2015 berhasil masuk jaringan taman bumi dunia, UNESCO Global Geopark.

“Kami sudah menerima surat pemberitahuan mengenai Desa Nglanggeran masuk satu dari tiga desa wisata di Indonesia yang diusulkan dalam ajang UNWTO. Saat ini, kami masih proses melengkapi persyaratan yang dibutuhkan melalui aplikasi yang sudah disediakan. Kami diberi waktu hingga 26 Agustus untuk melengkapi persyaratan tersebut,” ujar Sekretaris Dinas Pariwisata Pemda Gunung Kidul, Harry Sukmono, baru-baru ini.

Ia menjelaskan, Desa Wisata Nglanggeran memiliki berbagai keunikan yang berpotensi menjadi suguhan wisata alam dan budaya, di antaranya Gunung Api Purba, waduk/embung, hingga Kampung Pitu, kampung yang hanya dihuni tujuh kepala keluarga.

Selain itu, di kawasan ini juga terdapat perkebunan pengelolaan coklat dari hulu sampai hilir atau mulai dari penanaman, pengolahan, hingga pemasaran dilakukan oleh warga sekitar, dan melibatkan kaum ibu.

Sebelum menjadi nominasi ajang UNWTO, Desa Wisata Nglanggeran telah meraih banyak penghargaan baik nasional maupun internasional, salah satunya ialah terpilih menjadi desa wisata berkelanjutan terbaik dalam ajang yang Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama 12 desa wisata yang lain di Indonesia.

“Desa Wisata Nglanggeran merupakan desa wisata terlengkap, dengan suguhan wisata alam sampai wisata budaya. Masyarakat di sini biasanya berternak atau bertani untuk meningkatkan perekonomiannya,” ujar Harry.

Harry mengutarakan harapannya agar Desa Wisata Nglanggeran mampu menjadi terbaik, dan yang paling utama mampu mengangkat potensi lokal dan meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.

“Apapun hasilnya nanti, semoga hasilnya terbaik bagi semua,” harapnya.

Pemenang ‘Desa Wisata Terbaik (Best Tourism Village)’ UNWTO ini akan diumumkan pada Oktober 2021 dalam Sidang Majelis Umum UNWTO sesi ke-24 di Marrakesh, Maroko.

Lalu ada apa sebenarnya di desa wisata yang berlokasi di di Kecamatan Patok, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta ini. Yuk kita kuliti satu persatu… Selain gunung api purba dan desa ekowisata, terdapat pula Embung Nglanggeran, Air Terjun Talang Purba, Air Terjun Kedung Kandang, Kampung Pitu, serta pusat kuliner cokelat tradisional, Griya Cokelat Nglanggeran.

Gunung Api Purba adalah wisata pertama yang wajib Anda kunjungi saat tiba di Desa Nlanggeran. Menjadi salah satu dari tiga gunung purba di Pulau Jawa, gunung api yang pernah aktif jutaan tahun yang lalu ini tersusun dari material vulkanik tua yang membentuk pegunungan batu berukuran raksasa.

Perlu diketahui pula, Gunung Api Purba Nlanggeran adalah salah satu situs geologi yang memperoleh penghargaan terbaik tourism karena merupakan wisata berwawasan lingkungan yang mengutamakan aspek konservasi alam, pemberdayaan sosial budaya ekonomi, masyarakat lokal, pembelajaran serta pendidikan.

Oleh karena itu, selain tempat wisata, bagian dari Taman Bumi Gunung Sewu Geopark ini juga dapat dijadikan laboratorium alam untuk penelitian dan pendidikan. Disini kita juga dapat melakukan aktivitas liburan seperti homestay, berkemah dan mendaki atau trekking ringan ditemani dengan barisan tebing dan undakan sawah terasering yang memanjakan mata.

Kita juga dapat menatap sunrise keungu-unguan pada pagi hari, sunset dengan cahaya jingga di sore hari atau taburan bintang-bintang di malam hari. Tak hanya itu, tersedia juga atraksi seru seperti flying fox dan rock climbing.

Sempat tutup di awal pandemi, kini kawasan Gunung Api Purba sudah beroperasi kembali dengan sejumlah peraturan protokol kesehatan yang harus ditaati. Jika Anda ingin mengunjunginya di masa pandemi, kawasan Gunung Api Purba belum beroperasi 24 jam seperti biasanya, namun hanya buka pada 07.00 WIB dan tutup pada 17.00 WIB.

Di masa pandemi kawasan kemah hanya dibuka pada Sabtu dan Minggu dengan kapasitas tenda dibatasi hanya dua ratus orang dengan satu orang satu tenda. Jika Anda tidak membawa tenda pribadi, pihak pengelola Gunung Api Purba juga menyediakan perlengkapan adventure yang dapat disewa.

Protokol lainnya terkait aktivitas berkemah adalah tidak diperbolehkan memasang tenda di area puncak, karena akan sulit bagi pihak pengelola untuk memantau protokol pandeminya.

Sebelum memasuki kawasan objek wisata, ada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang sudah disiapkan, yakni setiap pengunjung harus memakai masker selama di kawasan objek wisata, melakukan cuci tangan, memakai hand sanitizer serta dicek suhu tubuhnya oleh petugas yang berjaga. Wisatawan juga diatur saat antre pembelian tiket di loket.

Jika tidak ingin berkemah, Anda dapat memanfaatkan paket penginapan mulai dari dua hingga tujuh hari. Kopilimo Café dan Homestay misalnya, atau rumah warga yang disewakan dengan harga Rp75-150 ribu per malam per orang.

Namun di masa pandemi, wisatawan hanya diperbolehkan menginap/homestay di hari Sabtu dan Minggu, karena sebagian besar pemilik penginapan yang dikelola warga merupakan kelompok usia rentan tertular.

Selain berkemah dan homestay, Desa Nglanggeran juga membuka kunjungan untuk wisatawan yang ingin mendaki. Dengan ketinggian puncak hanya 700 meter diatas permukaan laut, aktivitas pendakian dapat dilakukan bahkan untuk anak-anak maupun lansia.

Sekitar 1,5 km dari wisata Gunung Api Purba, kita dapat mengunjungi destinasi wisata lainnya, yakni Waduk Nglanggeran, atau penduduk setempat biasa menyebutnya Embung. Perjalanan dari Gunung Api Purba menuju waduk akan ditemani barisan pohon kakao, juga peternakan kambing etawa kelompok Purbaya.

Disediakan mobil pikap sebagai kendaraan para wisatawan yang ingin melakukan perjalanan menuju waduk. Berlatar panorama gugusan batuan purba yang mengagumkan, tak salah jika danau buatan berwarna hijau ini menjadi tempat favorit para wisatawan untuk bersantai. Adapun tampungan air waduk tersebut digunakan para petani untuk mengairi kebun dan sawah.

Selain Gunung Api Purba dan Embung Nglanggeran, di Nglanggeran juga terdapat dua air terjun populer, yakni Air Terjun Talang Purba dan Air Terjun Kedung Kandang. Keduanya memiliki karakteristik yang sama, dengan aliran air yang bertingkat, bebatuan licin dan lokasinya berada di daerah persawahan menambah kesan asri dan natural pada kedua air terjun tersebut.

Yang perlu diketahui oleh Anda, bahwa kedua air terjun ini merupakan air terjun musiman, yaitu deras saat musim penghujan namun kering saat musim kemarau. Oleh karena itu, sebaiknya disarankan mengunjunginya pada musim penghujan. Karena terletak di daerah persawahan, membuat airnya juga digunakan warga untuk keperluan irigasi.

Wisata terakhir yang dapat kamu kunjungi di Desa Nglanggeran adalah Kampung Pitu. Kampung pitu adalah destinasi wisata yang menarik sekaligus penuh sejarah mistis, yang merupakan sebuah desa di puncak timur situs gunung api purba Nglanggeran dengan ketinggian 740 mdpl.

Ada aturan adat yang mengharuskan hanya tujuh keluarga yang tinggal disana. Tak kurang, tak lebih, itulah mengapa kampung tersebut dinamai Kampung Pitu (tujuh). Barang siapa yang melanggar pantangan aturan ini, diyakini akan kehilangan nyawa atau menerima marabahaya lainnya.

Walau begitu, tradisi tujuh keluarga itu juga yang membuat Kampung Pitu juga bebas dari risiko polusi udara dan suara karena mata pencaharian warganya adalah bertani dan berkebun sehingga udara di Kampung Pitu sejuk dan subur.

Bagi para pelancong yang tertarik untuk merasakan keindahan pemandangan, wisata unik dan sejumlah atraksi seru di Nglanggeran, teman-teman dapat mengakses lokasinya dengan mudah melalui berbagai jalur.

Dari Bandara Adisucipto Yogyakarta, perjalanan dapat ditempuh menggunakan sepeda motor atau mobil dengan jarak sekitar 20 km atau 45 menit berkendara. Jika Anda ingin menggunakan kendaraan umum, bisa naik bus jurusan Jogja–Wonosari dari Terminal Giwangan atau Perempatan Ketandan (Ringroad), kemudian turun di Polsek Patuk. Perjalanan dilanjutkan dengan naik ojek hingga basecamp Gunung Nglanggeran. Harga tiket masuk ke desa Nlanggeran hanya dibanderol Rp7.000 (siang) dan Rp.9000 (malam).

Jadi, Anda sudah berketetapan hati mengunjungi ke desa wisata Nglanggeran? RN

2 Comments
  1. oppoday says

    85 Additional studies in mice showed that in comparison with immunocompetent mice, those with X linked immunodeficiency failed to show severe lung lesions despite Mycoplasma pulmonis in their lungs priligy at walgreens I also know he is a member of WHOA and supports clean racing

  2. oppoday says

    Please share your journeys or those you know priligy canada What is pancreatitis in dogs

Comments are closed.