Jakarta – Gempa M7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 menjadi pengingat nyata bahwa kawasan busur belakang Flores adalah salah satu zona tektonik paling aktif di Indonesia. Berpusat di laut, 30 km timur laut Nagekeo, gempa dangkal ini menimbulkan guncangan luas hingga Bali dan Sulawesi Selatan.
BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami setelah mencatat gelombang di beberapa titik pesisir. Maurole-Ende mencatat 0,94 meter, Bulukumba 0,54 meter, Labuan Bajo 0,36 meter, dan Sikka 0,20 meter. Namun peringatan dicabut pukul 07:30 WIB.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menegaskan: “BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak.”
Sejak gempa utama, 37 gempa susulan terjadi. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan: “Berdasarkan catatan sejarah, gempa serupa pernah terjadi pada tahun 1992 dengan kekuatan M7,5 yang menimbulkan kerusakan dan tsunami. Setelah hampir 30 tahun, pelepasan energi besar kembali terjadi di busur belakang Flores.”
Isu hoaks tentang prediksi gempa susulan pukul 09.00 WITA sempat menambah kepanikan. Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, menegaskan: “Informasi tersebut tidak benar atau hoaks. Secara ilmiah gempa bumi hingga saat ini belum dapat diprediksi secara tepat.”
Analisis BMKG menunjukkan guncangan mencapai skala V–VI MMI di Ende, Borong, Ruteng, Wolowae, dan Bajawa. Kupang, Maumere, dan Labuan Bajo merasakan skala IV–V MMI, sementara Makassar dan Denpasar skala II–III MMI.
Peristiwa ini menegaskan pentingnya mitigasi bencana. Edukasi publik tentang jalur evakuasi, simulasi gempa, dan literasi informasi menjadi kunci.
BMKG mengingatkan agar masyarakat tetap tenang, menjauhi pantai, dan hanya mengikuti informasi resmi. []






