Home / Entertainment / Rayakan 100 Tahun Sambas Mangundikarta: Legenda Di Balik Kerennya Dunia Penyiaran

Rayakan 100 Tahun Sambas Mangundikarta: Legenda Di Balik Kerennya Dunia Penyiaran

Suasana konferensi pers Peringatan 100 Tahun Sambas Mangundikarta. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Buat kamu anak muda yang menggeluti dunia komunikasi, penyiaran, jurnalistik, atau sekadar hobi bikin konten digital, pernahkah terlintas di kepala siapa sosok yang pertama kali bikin profesi penyiar di Indonesia begitu disegani? Jawabannya mengerucut pada satu nama besar: Sambas Mangundikarta.

Tepat pada hari Senin, 19 Oktober 2026, bertempat di Auditorium Yusuf M. Ronodipuro, LPP RRI Jakarta, sebuah perhelatan akbar bertajuk “100 Tahun Inspirasi Generasi Penyiar – Tribute to Sambas Mangundikarta” sukses mencuri perhatian publik.

Acara yang dihelat dari pukul 13.00 hingga 17.00 WIB ini bukan sekadar ajang nostalgia biasa, melainkan sebuah selebrasi keren buat ngerayain satu abad dedikasi sang maestro media yang berpulang pada tahun 1999 di usia 73 tahun akibat penyakit paru-paru.

Digawangi oleh 17 anak panitia muda-mudi kreatif, didukung penuh oleh LPP RRI Jakarta dan Bank Indonesia, serta berkolaborasi dengan Tibis Sinergi Cendekia Consulting Firm, acara ini dikomandoi langsung oleh duo hebat Tika Bisono dan Inge Sambas.

Mengusung konsep hibrida—luring dan daring lewat live streaming YouTube RRI Jakarta—acara ini dibidik untuk menyedot perhatian hingga 3.000 penonton dari seluruh penjuru Indonesia dan diaspora.

Nuansa acara langsung terasa berbeda sejak pertama kali menginjakkan kaki di venue. Panggung dihiasi oleh penjor merah-putih yang estetik, merepresentasikan nasionalisme tingkat tinggi sekaligus penghormatan kepada sejarah Radio Perjuangan Jawa Barat yang dirintis Sambas bersama pahlawan nasional Jenderal Dr. Moestopo di Subang sebelum hijrah ke Madiun dan Blitar.

Audiens yang hadir pun bukan ‘kaleng-kaleng’. Mulai dari para profesional komunikasi, praktisi media, jurnalis senior, hingga mahasiswa program studi komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo, semuanya tumpah ruah menyimak rangkaian acara.

“Perayaan 100 Tahun Inspirasi Generasi Penyiar – Tribute to Sambas Mangundikarta ini merupakan sebuah perayaan istimewa dan luhur, di mana seluruh narasumber dan artis pengisi acara menyuguhkan talk show tentang dunia penyiaran yang mumpuni dan persembahan lagu-lagu karya Sambas Mangundikarta yang sangat dikenal masyarakat pada jamannya; bahkan lagu Manuk Dadali begitu terkenal dan disukai masyarakat, sejak tahun 1962 sampai hari ini,” beber Tika Bisono selaku Ketua Panitia.

Gelar wicara (talk show) di acara ini pecah banget berkat kehadiran narasumber keren sekelas Dr. Adhyaksa Dault, M.Si (Menteri Pemuda dan Olahraga RI periode 2004–2009), Dr. M. Kabul Budiono, Yassir Den Has, S.H., dan Ir. Brigitta Isworo Laksmi.

Dipandu dengan asyik oleh Tika Bisono sebagai host dan Isabella Fawzi sebagai MC, obrolan seputar lika-liku dunia penyiaran sukses bikin penonton melek wawasan.

Kemeriahan makin lengkap berkat sajian musik dari Fadhil Indra, Inge Sambas, serta penampilan spesial dari diva legendaris Hetty Koes Endang yang membawakan lagu ikonik Manuk Dadali—lagu ciptaan Sambas yang hits dari tahun 1962 sampai sekarang!

Buat yang belum tahu, Sambas Mangundikarta lahir di Bandung, 21 September 1926. Kariernya di RRI dimulai sejak 1952. Tapi, jauh sebelum itu, ia sudah jadi pejuang kemerdekaan yang siaran di Radio Perjuangan (1946–1949).

Keahliannya ngobrol di depan mikrofon paling melejit pas ia beralih ke dunia olahraga. Dari meliput di Lapangan Ikada, siaran langsung Thomas Cup pertama di Indonesia tahun 1961, ditarik ke TVRI buat Asian Games IV tahun 1962, sampai terbang meliput All England (1976, 1977, 1981), Thomas Cup Kuala Lumpur, Pra-Piala Dunia Singapura, hingga Uber Cup Tokyo. Gaya bicaranya yang santai, renyah, dan detail banget bikin namanya melekat kuat di hati pendengar.

Bahkan, pada era 1980-an, ia sukses ngebawain program “Dari Desa ke Desa”, blusukan ke Brebes buat ngeliput program peternakan lokal dengan gaya yang super komunikatif. Enggak heran kalau Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menganugerahinya Lifetime Achievement Award 2022 yang diterima langsung dengan penuh haru oleh sang putri, Inge Sambas.

“23 tahun ayah sudah meninggal dan 23 tahun belum pernah ada yang memberikan Lifetime Achievement Award. Terimakasih dan saya berikan apresiasi tertinggi untuk KPI. Izinkan juga saya memberikan apresiasi kepada teman-teman almarhum ayah saya,” ungkap Inge penuh emosional waktu itu.

Wakil Ketua Panitia, Heri Putranto, juga nambahi kalau misi acara ini adalah nularin legacy sang pahlawan penyiaran ke generasi masa kini. Serunya lagi, perayaan keren ini bakal berlanjut tahun 2027 mendatang, di mana Pemda Bandung dan Subang bakal ambil bagian buat ngerayainnya dari kacamata kebudayaan Sunda. []

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *