Jakarta – Ada keheningan sesaat sebelum gemuruh instrumen orkestra menghentak Tennis Indoor Senayan, Jakarta, pada Minggu malam (1/11). Di bawah sorotan lampu panggung yang dramatis, puluhan musisi duduk rapi dengan alat musik masing-masing.
Di tengah mereka, berdiri sosok yang tak asing lagi bagi penikmat musik tanah air: Addie MS. Dengan lambaian tongkat konduktornya yang anggun, ia memimpin orkestra memulai perjalanan lintas waktu, mempertemukan kembali dua nama terbesar dalam sejarah musik dunia, The Beatles dan Queen—dalam balutan aransemen simfonik yang megah.
Konser bertajuk “Twilite Orchestra Presents The Beatles & Queen” ini bukan sekadar panggung musik biasa. Ini adalah sebuah perayaan atas warisan artistik yang telah menemani hidup jutaan orang dari berbagai generasi.
Dan benar saja, sejak dentuman pertama bergema, para penonton seolah dibawa hanyut dalam pusaran emosi yang dibangun secara perlahan namun pasti.
Sejak tiket resmi pertama kali dibuka, antusiasme publik sudah memberikan sinyal kuat bahwa pertunjukan ini akan menjadi peristiwa budaya yang langka. Betapa tidak, seluruh tiket dilaporkan ludes terjual (sold out) hanya dalam waktu 12 menit.
Sebuah rekam jejak fantastis yang membuktikan bahwa musik orkestra dan lagu-lagu klasik memiliki tempat yang sangat istimewa di hati masyarakat Indonesia modern.
Di atas panggung, kemegahan tersebut semakin hidup berkat kehadiran dua vokalis papan atas Indonesia: Marcello Tahitoe dan Sandhy Sondoro.
Karakter vokal Marcello yang kuat berpadu sempurna dengan warna soul dan blues khas Sandhy. Keduanya tidak bernyanyi untuk meniru para legenda terdahulu, melainkan memberikan interpretasi segar yang sarat akan ekspresi personal.
Suasana semakin meriah tatkala LiLo mengambil alih panggung tidak hanya sebagai pemandu acara yang jenaka, tetapi juga ikut menyumbangkan suara emasnya bersama orkestra.
Puncak kejutannya hadir ketika tokoh bisnis sekaligus musisi Tony Wenas naik ke atas panggung sebagai bintang tamu spesial. Lantunannya pada lagu “Too Much Love Will Kill You” dan “Love of My Life” sukses membuat seisi gedung bergemuruh dalam tepuk tangan meriah.
Penyelenggaraan konser akbar ini sekaligus menjadi tonggak sejarah penting: perayaan 35 tahun perjalanan karier Twilite Orchestra di kancah musik nasional.
Selama tiga setengah dekade, orkestra yang dipimpin oleh Addie MS ini konsisten menjembatani musik klasik dengan berbagai genre populer, mendidik telinga publik, serta memperluas apresiasi terhadap seni simfoni.
Dalam momen yang penuh haru tersebut, Addie MS membagikan pandangannya mengenai proses kreatif di balik penggabungan mahakarya dunia ini.
“Merupakan sebuah kebahagiaan bagi kami dapat menghadirkan karya-karya The Beatles dan Queen melalui interpretasi orkestra yang memberikan dimensi musikal berbeda, tanpa menghilangkan karakter dan jiwa dari karya aslinya. Proses menggabungkan kekuatan orkestra dengan lagu-lagu yang telah begitu dekat dengan pendengar lintas generasi menjadi pengalaman artistik yang sangat berarti bagi kami,” ujar Addie MS, Music Director & Conductor of Twilite Orchestra.
Ia juga menambahkan dengan penuh harap, “Saya berharap pertunjukan ini tidak hanya memberikan pengalaman musikal yang mengesankan, tetapi juga semakin memperluas apresiasi masyarakat terhadap musik orkestra. Terlebih, konser ini menjadi bagian dari perayaan 35 tahun perjalanan Twilite Orchestra, sebuah momentum yang sangat istimewa bagi kami.”
Membawakan lagu-lagu legendaris dari band sekaliber The Beatles dan Queen tentu bukan tugas yang mudah. Beban sejarah melekat di setiap liriknya. Namun, Marcello Tahitoe dan Sandhy Sondoro berhasil membuktikan kapasitas mereka sebagai penafsir ulung.
Marcello mengungkapkan betapa mendalamnya pengalaman emosional yang ia rasakan selama berlatih hingga berdiri di panggung megah tersebut.
“Bisa membawakan karya-karya The Beatles dan Queen bersama Twilite Orchestra merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya. Lagu-lagu ini memiliki karakter dan kekuatan emosional yang sangat khas, sehingga membawakannya dengan iringan orkestra memberikan perspektif baru sekaligus tantangan tersendiri. Melihat bagaimana karya-karya legendaris ini kembali dinikmati dalam suasana yang berbeda menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari pertunjukan istimewa ini dan berbagi pengalaman musikal tersebut bersama para penonton,” ungkap Marcello Tahitoe.
Senada dengan Marcello, Sandhy Sondoro menyoroti bagaimana instrumen-instrumen orkestra mampu menghidupkan kembali nyawa dari lagu-lagu yang sudah berumur puluhan tahun.
“Bagi saya, tampil bersama Twilite Orchestra dalam membawakan karya-karya The Beatles dan Queen adalah pengalaman yang sangat istimewa. Ada kekuatan musikal yang berbeda ketika sebuah lagu diinterpretasikan bersama orkestra, karena setiap instrumen memberikan warna dan kedalaman emosi tersendiri. Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa musik yang hebat akan selalu memiliki ruang untuk berkembang dan menemukan pendengarnya di setiap generasi. Saya berharap apa yang kami hadirkan di panggung dapat meninggalkan kesan yang mendalam bagi semua yang menyaksikannya,” ujar Sandhy Sondoro.
Di balik megahnya tata panggung dan indahnya harmoni musik, ada kerja keras dari pihak promotor dan para mitra strategis. TipTip sebagai promotor utama berhasil merancang sebuah ekosistem pertunjukan yang tidak hanya matang secara komersial, tetapi juga tinggi secara nilai estetika.
Astri Novanita, SVP Entertainment Business TipTip, menyampaikan rasa syukurnya atas sukses besar yang diraih oleh konser ini.
“Kami bersyukur Twilite Orchestra Presents The Beatles & Queen dapat terselenggara dengan baik dan memperoleh sambutan yang sangat positif dari publik, yang sebelumnya juga tercermin dari penjualan tiket yang habis dalam waktu dua belas menit. Bagi kami, keberhasilan sebuah pertunjukan tidak hanya diukur dari antusiasme penjualan tiket, tetapi juga dari kualitas pengalaman yang dihadirkan kepada penonton. Kami mengapresiasi dedikasi seluruh musisi, tim produksi, serta dukungan para mitra yang telah berkontribusi dalam mewujudkan konser ini. Semoga pertunjukan ini menjadi salah satu pengalaman musikal yang berkesan sekaligus memperkuat apresiasi masyarakat terhadap pertunjukan orkestra,” tutur Astri Novanita.
Keberhasilan ini turut disokong oleh kehadiran BRI Prioritas sebagai powering partner, serta Adinda Bakrie Foundation dan PLN Mobile sebagai sponsor resmi. Sinergi lintas sektor ini membuktikan bahwa industri seni pertunjukan di Indonesia memiliki masa depan yang cerah apabila didukung oleh kolaborasi yang solid.
Ketika rangkaian konser akhirnya ditutup lewat koor massal penonton menyanyikan lagu “Hey Jude” sebagai encore, malam itu di Senayan meninggalkan satu kesimpulan pasti: musik yang hebat tidak akan pernah lekang oleh waktu; ia hanya menunggu tangan-tangan kreatif untuk membawanya terbang lebih tinggi ke dimensi baru.[]




