Jakarta – Ada sebuah benang merah yang menarik antara meracik melodi di dalam ruang studio yang kedap suara dengan merancang tapak-tapak fondasi di atas hamparan tanah seluas puluhan hektare. Keduanya sama-sama menuntut kesabaran, visi estetik, serta ketelitian tingkat tinggi.
Itulah persimpangan jalan yang kini tengah dinikmati oleh Dimas Supartono, seorang figur yang selama ini lebih akrab dengan hingar-bingar dunia rekaman dan tata suara.
Bagi pencinta musik tanah air, nama belakang Supartono tentu bukan rahasia lagi. Ia adalah darah daging dari mendiang musisi legendaris Tono Supartono, sosok yang mewariskan kecintaan mendalam terhadap harmoni dan kepekaan seni kepada sang putra.
Namun, alih-alih membatasi diri di balik konsol mixing dan aransemen lagu, Dimas memilih untuk melangkah lebih jauh. Ia kini menakhodai PT Karya Perkasa Indonesia sebagai pengembang di balik mega-proyek perumahan Nuansa Indah Village di kawasan Sawangan, Depok.
Langkah Dimas memasuki kancah bisnis properti bukanlah hasil keputusan impulsif. Keputusan ini lahir dari kejelian membaca situasi pasar serta ketersediaan aset yang dinilai sangat strategis di wilayah Depok.
Beberapa tahun silam, sebuah langkah pengamanan lahan atau pembebasan tanah dilakukan dengan skema harga yang kompetitif. Seiring berjalannya waktu, wilayah tersebut bertransformasi menjadi kawasan emas penyangga ibu kota yang sangat diincar oleh keluarga muda.
“Karena adanya kesempatan dan peluang yang baik di daerah Depok yang sedang saya kembangkan. Mengingat pembebasan tanah di beberapa tahun yang lalu dengan harga yang cukup baik,” ujar Dimas saat mengenang awal mula proyek ini digagas.
Proyek Nuansa Indah Village sendiri berawal dari sebuah tawaran sederhana yang datang dari pemilik lahan terdahulu kepada korporasi yang dipimpinnya. Dari situ, rencana induk dirancang secara cermat.
Di atas lahan seluas total 26 hektare, kawasan ini disiapkan menjadi sebuah oase permukiman yang terencana. Saat ini, luasan yang telah digarap baru mencapai sekitar 7 hektare, di mana Cluster Cinnamon menjadi primadona dan ujung tombak dari tahap berjalan saat ini.
Membidik segmen pasar kelas menengah, Dimas tidak ingin Nuansa Indah Village hanya menjadi sekadar kumpulan rumah tempat berlindung. Ia merancang kawasan tersebut dengan mengedepankan atmosfer asri dan ramah keluarga.

Sentuhan estetika alam tampak jelas dari penyediaan fasilitas penunjang yang memadai, mulai dari fasilitas kolam renang hingga pemandangan danau indah di dalam kompleks perumahan.
Konsep ini diyakini sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat urban saat ini yang mendambakan keseimbangan antara mobilitas kerja dan kualitas hunian yang menenangkan. Terbukti, pada pengembangan Cluster Cinnamon yang menaungi sekitar 200 unit rumah di atas lahan 3,5 hektare, progresnya berjalan mulus sesuai dengan linimasa yang ditargetkan.
“Alhamdulillah, bisa mencapai target sesuai yang kita rencanakan. Target ke depannya mengembangkan cluster-cluster setelah ini, dan juga beberapa fasilitas umum yang masih dalam pengembangan,” tutur Dimas dengan nada syukur yang terpancar jelas.
Kendati memegang kendali penuh atas perusahaan pengembang properti berskala besar, Dimas tidak memungkiri bahwa dinamika dunia properti memiliki tingkat kerumitan yang sangat kontras dengan industri musik.
Jika dalam dunia kreatif penulisan lagu atau produksi audio bisa tuntas dalam hitungan minggu, maka membangun sebuah rumah atau kawasan hunian adalah sebuah ujian kesabaran yang melibatkan siklus panjang dan pengerahan modal yang masif.
“Ketika membuat musik bisa diselesaikan dalam kurun waktu satu bulan. Lain halnya dalam membuat rumah, perlu waktu yang lebih lama dan kesiapan modal yang cukup,” jelasnya membandingkan kedua bidang tersebut.
Meskipun demikian, transisi ini sama sekali tidak melunturkan jiwa seninya. Bagi Dimas, musik tetaplah sebuah panggilan jiwa yang murni, sebuah passion abadi yang tidak akan pernah ia tinggalkan.
Tumbuh besar di bawah didikan sang ayah, almarhum Tono Supartono, membentuk mentalitasnya untuk selalu terikat dengan dinamika perkembangan musik lokal maupun mancanegara. Di kediamannya, studio musik pribadi tetap berdiri tegak sebagai tempat pelarian kreatif sekaligus laboratorium ide-ide segarnya.
“Kalau properti ada beberapa peluang dan keuntungan yang bisa diraih, sedangkan musik adalah passion,” tegasnya.
Konsistensi di jalur musik ini dibuktikannya melalui perilisan single bertajuk “Jujur Saja” yang dinyanyikan oleh Ira Batti pada tahun 2024 lalu.
Tak berhenti di situ, ritme kreativitasnya terus berdenyut. Ia bahkan telah memberikan bocoran bahwa dalam waktu dekat, karya musik terbarunya akan segera menyapa para pendengar setia di seluruh Indonesia.
“Tentu siap. Ditunggu ya, single-single berikutnya dalam waktu dekat ini akan rilis lagu berikutnya,” pungkasnya penuh antusias.
Perjalanan Dimas Supartono membuktikan bahwa batasan antardisiplin ilmu di era modern kian cair. Properti memberikannya ruang untuk berekspansi secara bisnis dan finansial, sementara musik tetap menjadi rumah spiritual bagi jiwanya yang kreatif.
Dari denting senar gitar hingga dentuman mesin berat di lahan pembangunan Sawangan, Dimas terus menorehkan karya dengan ritme hidup yang seimbang. []





